Ada benarnya ternyata, suatu ungkapan yang menyatakan, kalau ngomong itu lebih gampang dari melakukannya. Teori bisa saja berbeda saat harus diimplementasikan, mungkin terkadang bisa sesuai dengan teori, tapi mungkin ada kemungkinan untuk meyimpang walaupun sedikit, tapi ada juga yang bisa sampai berbeda 180 0 antara implementasi dan teorinya. Hal itu bisa saja terjadi karena satu dan lain hal, sesuatu yang mungkin tidak pernah kita temukan saat hanya mempelajari teori.
Pengampunan, mungkin satu kata yang bagi kita anak-anak Tuhan, sudah sangat sering mendengarnya. Mungkin sudah lebih dari 20 x “teori” yang sudah pernah kita ketahui perihal pengampunan. Saat kita mendengar khotbah di gereja, pembinaan, seminar, sharing, ataupun dari berbagai sumber lainnya, sering kali kita bersemngat untuk mampu melakukannya. Kita merasa sudah kuat dan mampu ketika nantinya tiba saat kita harus mengampuni seseorang.
Tetapi ternyata, hanya dalam hitungan hari atau jam atau malah mungkin menit, kita bisa langsung tidak meerasakan lagi apa yang telah kita peroleh perihal pengampuna tersebut. Bisa saja setelah mempelajari suatu teori dan saat kita ingin mengimplementasikannya, terjadi suatu penyimpangan dalam prakteknya. Hal itu bisa saja terjadi, walau kita sudah berusaha untuk berhati-hati dalam melakukannya.
Begitu juga dengan perihal pengampunan, bisa saja saat kita baru pulang dari mendengar khotbah saat ibadah minggu di gereja perihal pengampunan, lalu saat kita langsung diperhadapkan dengan suatu masalah. Masalah yang membuat kita merasa kesal terhadap seseorang, kita langsung ‘lupa’ dengan firman Tuhan yang baru kita dengarkan. Sebenarnya mungkin kita tidak lupa, tapi terasa sulit untuk melepaskan pengampunan itu.
—————————————–
Baru aja dech kyanya aq dengar khotbah perihal pengampunan, mungkin belum ada 1 bulan, di gereja yang sama lagi. Tapi baru aja, aq pulang dari gereja, aq udah diperhadapkan dengan suatu kondisi dimana aq merasa kesal terhadap temanku. Kekesalan yang mungkin sebenarnya udah menumpuk untuk beberapa ‘kasus’ sebelumnya. Aq tmsk orng yg cepat bwt marah tp juga cepat untuk kembali baik lagi. Jadi dulu saat aq kesal ma dia, aq diam aja n berharap beberapa saat kemudian aq akan melupakannya. Memang setelah beberapa saat kemudian aq merasa baikan. Tapi emank karena tidak ada pemberesan yang dilakukan secara tuntas, maka masih ada kemungkinan untuk kesal kembali. Seperti rasa nyeri saat kita sakit gigi akibat adanya lubang pada gigi, mungkin setelah minum obat pereda rasa sakit, sakitnya akan hilang, tapi karena dia tidak dicabut atau tidak ditambal, maka ada kemungkinan suatu saat , rasa sakit itu akan semakin menyerang kita dengan sangat menyiksa karena lubangnya semakin membesar.
Begitu mungkin rasa kesal yang aq rasakan, karena belum diadakannya pemberesan ‘samaskali’, sehingga pada akhirnya….terjadi lha hal itu….hal yg sebenarnya aq jg gak akan menyangka itu bisa terjadi.
Dulu aq berpikir, mungkin aq tidak akan pernah menyakiti perasaan orang lain, tapi ternyata sekarang aq sudah berhasil melakukannya dengan ‘baik’ J
Benar2 diperlukan suatu perjuangan dan kerendahan hati yang sangat rendah memang untuk bisa benar-benar melepaskan pengampunan, dan juga untuk membuat aq benar-benar punya kelembutan dan kerendahan hati untuk mengakui kalau aq juga udah salah.
Manusiawi mugkin memang, mengingat nenek moyang kita adam-hawa yang saling menyalahkan saat tertangkap oleh Allah sudah memakan buah terlarang.
Tapi memang benar, segala sesuatu emank tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua pasti mempunya maksud dan tujuan tertentu. Dan semua itu emank udah diatur oleh Tuha untuk terjadi.
Seperti suatu mata kuliah yang kita belum bisa lulus saat kita mengambilnya, maka kita masih harus akan mengulangnya kembali sampai lulus. Kita harus ikut kuliahnya, dan saat ujian tiba, kita juga harus mengikutinya, siap atau tidak. Seperti itu juga mungkin firman Tuhan perihal pengmpunan yang belakangan sering aq dengar. Karena mungkin aq belum bisa lulus, jadi Tuhan kembali ingatkan, dan ijinkan ujian terjadi lg pada hidupku.
Tap akhirnya sekarang aq dan dia sudah bisa berteman kembali seperti semula, tentunya dengan satu pemahaman baru perihal kegiatan kami masing – masing. Aq jadi lebih bisa memahami n nerima kondisi dia, yang tadinya aq serin g bisa terima sama keputusan yang sering dia buat…
Foo……..that’s it…aq lulus satu ujian di bagian pertemanan…thx God……