Beberapa waktu belakangan ini, Tuhan mengajarkan banyak hal tentang statement “aku percaya”. Aku sangat rhema dengan statement ini. Ini salah satu statement yang aku suka dan sedang belajar untuk melakukan hal ini dalam setiap kehidupanku. Ini kelihatannya pernyataan sederhana dan simple. Tapi, sebenarnya ini pernyataan yang luar biasa. Statement “aku percaya” menggambarkan penyerahan total pada sesuatu yang kita percayai. Kita seperti sudah berserah sepenuhnya padanya. Ini bukan soal perkataan yang keluar dari mulut saja, melainkan soal sikap hati berserah sepenuhnya. Percaya mempunyai pengertian kurang lebih sama dengan beriman, walaupun beriman memiiki “level” yang lebih tinggi dari sekedar percaya.
Aku lalu diajar hal baru tentang hal ini. Seringkali kita bermimpi tentang sesuatu atau beriman tentang satu hal. Lalu kita mulai berdoa pada Tuhan agar hal itu digenapi. Itu bukan sesuatu yang salah. Itu benar. Hanya saja, aku diajar untuk tidak hanya berdoa saja tentang semua iman dan mimpiku. Tuhan menuntut suatu langkah nyata dari kita untuk menggenapinya. Mungkin kita berpikir berdoa sudah merupakan suatu langkah nyata untuk menggenapi mimpi kita. Atau kita mulai mencari suara Tuhan dan setelah mendengar-Nya kita berpikir kita sudah melakukan suatu langkah nyata. Memang benar kita harus berdoa dulu lalu mencari suara Tuhan tentang mimpi kita tersebut. Tapi Tuhan butuh suatu bukti juga dari kita bahwa kita sedang menghidupi mimpi dan iman kita tersebut. Tuhan mau agar kita tidak hanya berdoa saja, tapi berjalan sesuai iman dan mimpi kita tersebut.
Bagi Tuhan, akan sangat mudah menggenapi semua iman dan mimpi kita tersebut. Tetapi seringkali kita yang mempersulit semua itu tergenapi. Yang Tuhan tuntut dari kita hanya suatu langkah pertama untuk menggenapinya. Lalu langkah pertama itu dilanjutkan dengan langkah berikutnya. Dimana-mana, jika kita ingin melakukan sesuatu, pasti langkah pertama yang paling sulit (walaupun gak semua seperti itu). Misal, kita ingin masuk ke suatu universitas terkemuka, maka yang paling sulit adalah tes masuknya. Jika sudah masuk, proses pembelajaran biasanya tidak sesulit yang kita bayangkan. mengapa itu semua bisa terjadi? Itu karena langkah pertama biasanya berjalan singkat dan cepat. Tetapi, langkah pertama itu akan sangat menentukan langkah ke depan selanjutnya. Tidak ada langkah kedua jika langkah pertama tidak dilakukan. Semakin lama kita melakukan langkah pertama (maksudnya mengulur waktu untuk melakukan langkah pertama), maka semakin lama juga mimpi dan iman kita akan digenapi. Langkah pertama ini bukan dilakukan oleh Tuhan, tetapi oleh kita.
Lalu aku diperjelas tentang korelasi statement “aku percaya” dan suatu sikap hidup. Statement “aku percaya” tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan suatu sikap hidup yang membuktikan kita sedang dalam kondisi percaya. Misalnya, saat aku sakit lalu berkata, “Tuhan aku percaya bahwa aku sudah sembuh”. Lalu ternyata aku sering mengeluh tentang penyakit itu sendiri. itu sedang tidak membuktikan suatu sikap hidup yang menggambarkan “aku percaya”. Jika aku gabung statement “aku percaya” dan “lakukan langkah pertama”, maka kira-kira seperti ini: aku percaya akan satu hal, dan aku akan segera melakukan langkah pertama untuk membuktikan pada dunia luar bahwa aku percaya akan hal itu segera terjadi. sederhana bukan?! Yang sulit hanya melakukan langkah pertama.
Penggenapan iman dan mimpi kita juga ditentukan oleh langkah pertama tersebut. Bayangkan jika Abram mengulur waktu untuk berangkat dari haran ke kanaan. Abram baru saja mendapat janji dari Tuhan dan abram percaya akan janji yang kelihatannya mustahil itu. Tetapi, dia segera berangkat saat berumur 75 tahun dan berjalan dalam imannya tersebut. Dia baru saja melakukan langkah pertama dalam menjalani mimpi dan imannya tersebut. Tentu saja tidak mudah bagi Abram meninggalkan kampung halamannya dan semua saudaranya. Tetapi dia berani melakukan langkah pertama. Jika Abram berangkat misalnya saat berumur 80 tahun, mungkin penggenapan janji Tuhan akan diundur juga.
Oleh karena itu, segera lakukan langkah pertama dalam menggenapi mimpi dan iman kita tersebut. Memang dibutuhkan “energi ekstra” untuk melakukannya. Tetapi, karena kita punya Tuhan yang akan menguatkan kita, maka seharusnya tidak sulit bagi kita untuk melakukan langkah pertama. Jadi, buktikan statement “aku percaya” yang kita katakan dengan langkah pertama yang nyata untuk menggenapi semua mimpi dan iman kita.
gogetglory.blogspot.com/bm
-Jawaban.com-
Kita hidup di zaman di mana kata-kata tidak bermakna sama seperti dulu. Namun bahasa kita telah dicemari begitu lama sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Apa yang dulu disebut ‘membunuh janin’ sekarang disebut ‘pilihan’. Apa yang dulu dikenal sebagai ‘hidup dalam dosa’ sekarang disebut ‘hubungan penuh arti’. Apa yang dulu disebut ‘hubungan seksual’ sekarang disebut ‘sikap tidak pantas’.
Ini adalah pernyataan-pernyataan langsung, bukan? Tidak ada dalih dan tidak ada pembalikan makna. Kapan pun Anda merasa dunia telah mencemari makna sederhana dari kata-kata, berpalinglah kembali pada firmanNya yang nyata. Kita bisa percaya diri bahwa ketika Alkitab memberitahu kita bahwa TUHAN tetap sama baik kemarin, hari ini, dan besok, itu artinya IA tak pernah berubah. Dia sudah menjanjikan itu pada kita.
Salah satu contoh mengenai hal pertama ini diambil dari I Kor 12. “….tiap-tiap orang…” Dalam I Korintus 12:7 kata ‘tiap-tiap’ ini mengandung arti individual yang terpisah, yang dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan kata each one. Jadi, setiap orang dikaruniakan Tuhan secara khusus, bukan secara massal dan setiap orang mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri yang saling melengkapi untuk kepentingan bersama.
Houdini, seorang pesulap handal dengan keahliannya membuka segala macam kunci bisa memiliki kemampuan seperti itu karena berawal dari hobinya yang suka bermain berbagai jenis kunci. Hobi ini ditekuni dan dimaksimalkannya sampai akhirnya ia berhasil. 
penuh keyakinan mengharapkan kemurahan Tuhan. Mulailah mengharapkan pintu-pintu kesempatan terbuka bagi Anda. Harapkanlah untuk meraih yang terbaik dalam karier Anda. Yakinlah bahwa Anda akan mengatasi tantangan-tantangan kehidupan. Tuhan biasanya bertemu dengan kita pada tingkat pengharapan kita. Itulah sebabnya, dalam banyak cara, pengharapan-pengharapan Anda akan menetapkan batas-batas kehidupan Anda. Yesus berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Salah satu terjemahan menyatakannya demikian, “Jadilah apa yang engkau percaya” (Matius 9:29). 
