absolutely me…

just as 'lil bit documentation about me and arounds

Bank of Bad Habits September 23, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 3:51 am
I Korintus 10:13
“Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Kita merupakan manusia yang tidak sempurna dan tak seorang pun yang membantah hal itu. Pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan Hawa beribu-ribu tahun yang lalu harus ditanggung oleh keturunannya sampai saat ini. Akibat pelanggaran itu, manusia memiliki benih kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam dirinya.

Iri hati, suka marah, mengutamakan hawa nafsu, rakus, malas adalah beberapa benih kebiasaan buruk yang ada dalam diri manusia. Seperti halnya bertransaksi di bank, benih kebiasaan buruk itu akan semakin bertambah atau berkurang tergantung tindakan apa yang kita lakukan, yakni menabungnya atau menariknya.

Ketika kita melakukan salah satu saja kebiasaan buruk dalam kehidupan kita, maka sebenarnya kita sedang menabung kebiasaan buruk dalam diri kita. Namun, saat kita tidak mengikuti kebiasaan buruk kita, kita sedang melakukan penarikkan dan  hal ini tidak dapat kita lakukan seorang diri. Kita membutuhkan penolong, yang dapat membantu kita bebas dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Siapakah Dia? Tentu saja sang Penolong itu ialah Tuhan Yesus.

Hanya Tuhan Yesus yang dapat melepaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita, tetapi Dia tidak ingin bekerja sendiri. Dia ingin kita melakukan bagian kita. Apakah bagian kita itu? Berdoa, berdoa, dan berdoa. Kita berdoa kepada Tuhan agar mengampuni kita atas kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan selama ini dan melepaskan kita dari segala ikatan dosa. Kita juga berdoa agar Dia terus membimbing kita menjadi serupa dengan-Nya.

Walaupun begitu, keputusan sepenuhnya ada di tangan Anda, apakah memilih jalan Allah atau jalan Anda sendiri. Memilih jalan Allah berarti Anda sedang menarik bahkan menutup rekening yang berisi kebiasaan-kebiasaan buruk Anda, tetapi bila Anda memilih jalan sendiri berarti Anda menabung kebiasaan-kebiasaan buruk itu hingga jumlahnya semakin banyak.

Biarlah keputusan yang Anda ambil sekarang adalah keputusan yang menyenangkan hati Tuhan, bukan keinginan si iblis. Bagi Dia lah kemuliaan, hormat, dan kejayaan sampai selama-lamanya. Haleluya!!

Untuk mengubah kebiasaan buruk Anda secara ekstrim, Anda harus mengambil keputusan yang ekstrim juga

Sumber: Saduran Artikel Devotional ’Bank of Bad Habits’ – Aaron Bull (-Jawaban.com-)

 

Mengubah Sikap = Mengubah Hidup August 2, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 12:56 pm

Sikap bukanlah sekedar kondisi pikiran; sikap juga merupakan cerminan dari apa yang kita hargai. Sikap adalah lebih dari sekedar mengatakan bahwa kita bisa. Sikap adalah percaya bahwa kita bisa. Sikap menuntut rasa percaya sebelum melihat karena melihat berdasarkan pada keadaan dan percaya berdasarkan pada iman. Sikap bersifat sangat menular, terutama bila kita mempersiapkan diri untuk hari esok.

Kita berkuasa penuh atas sikap-sikap kita. Tidak ada orang lain yang berkuasa untuk mengubah sikap kita tanpa izin dari kita. Sikap kita memungkinkan diri kita lebih berdaya daripada uang, mengatasi kegagalan-kegagalan kita dan menerima orang lain sebagaimana diri mereka, dan apa yang mereka ucapkan. Sikap lebih penting daripada bakat, dan adalah lebih penting daripada segala keterampilan yang diperlukan untuk kebahagiaan dan kesuksesan. Sikap kita bisa digunakan untuk membangun diri kita atau untuk menghancurkan kita – kitalah yang menentukan pilihan.

Sikap juga memberikan kebijaksanaan kepada kita untuk mengetahui bahwa diri kita tidak bisa mengubah peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Saya yakin bahwa hidup terdiri dari 10% apa yang terjadi pada diri saya dan 90% bagaimana saya menanggapinya – dan dengan kondisi pikiran semacam itu, saya tetap berkuasa atas sikap saya.

Sikap adalah suatu pilihan! Kita memiliki kekuasaan untuk memilih tanggapan kita atas segala situasi. Dua jenis filter untuk karakter pilihan yang berdampak besar sekali atas respon kita adalah: filter-filter yang ada di dalam kendali kita dan filter-filter yang ada di luar kendali kita. Beberapa hal yang mempengaruhi pilihan, seperti jenis kelamin dan usia adalah filter yang berada di luar kendali kita. Yang lainnya, seperti nilai-nilai dan pendidikan, ada dalam kendali kita. Lewat sikap, kita bisa memberdayakan unsur-unsur yang berada di dalam kendali kita dan meminimalkan pengaruh dari unsur-unsur yang berada di luar kendali kita.

Apalah hal itu di dalam atau di luar kendali kita, sikap kita bisa sangat berpengaruh pada respon kita terhadap keadaan-keadaan dalam hidup ini. Sikap Anda adalah salah satu dari beberapa hal dalam hidup ini yang bisa Anda kendalikan. Meskipun Anda tidak bisa meramalkan jatuh bangun yang akan Anda alami, Anda bisa mengendalikan cara Anda bereaksi terhadap jatuh bangun tersebut. Sikap itu sangat menular. Sikap bisa berpengaruh luar biasa besar pada orang-orang yang bekerja dan hidup bersama kita. Anda bisa memilih untuk menjadi orang yang positif.

Sama halnya seperti kisah ember yang sedang dalam perjalanan menuju sumur. Ember yang pesimis akan berkata, “Betapa tidak bergunanya apa yang kita lakukan. Waktu demi waktu kita turun ke sumur dan menjadi penuh, tetapi kita selalu kembali ke sumur dalam keadaan kosong.” Namun ember yang positif akan berkata, “Aku menikmati apa yang kita kerjakan. Aku melihatnya seperti ini, tidak perduli berapa kali kita datang ke sumur dalam keadaan kosong, kita selalu pergi dalam keadaan penuh.”

Kita semua mempunyai kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan dalam hidup ini. Tidak ada yang memerintah kita mana yang harus dipilih; kita bebas sepenuhnya untuk membuat pilihan. Sikap adalah suatu pilihan. Jangan memilih yang negatif, pilihlah untuk menjadi orang yang optimis – untuk percaya pada diri Anda dan orang lain. Bergabunglah dengan pemimpin yang positif. Jika mereka sudah sukses di bidang itu dalam kehidupan pribadi mereka, maka Anda juga bisa.

Hati-hati dengan sikap Anda! Apakah Anda cenderung melihat sisi yang gelap dari sesuatu atau sisi cerahnya? Apakah Anda mencoba untuk menjadi optimis atau pesimis? Terkadang kita tidak bisa melihat hal yang baik karena kita berfokus pada kesalahan atau masalah. Ada orang yang mengatakan, “Di tengah-tengah setiap kesulitan ada peluang.” Alkitab berbicara tentang fokus pada hal-hal yang benar.

Filipi 4:8
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Sikap adalah lebih dari sekedar berkata “saya bisa”; sikap adalah percaya bahwa Anda bisa. Anda perlu percaya sebelum melihat, karena melihat itu berdasarkan kondisi, dan percaya itu berdasarkan iman.

Bebaskanlah diri Anda dari perbudakan kegagalan. Bersikaplah yang benar! Ketahuilah bahwa Anda bisa mengubah sikap Anda dan itu berarti Anda bisa mengubah hidup Anda!

Sumber : Biblical Principle for Becoming Debt Free

(sumber: Jawaban.com)

 

Berhenti! Hormatilah Hari Sabat.. August 2, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 12:54 pm
Saat berbicara dihadapan sekelompok anggota konkres AS di Washington D.C yang mengalami kepenetan, seorang wanita muda yang cantik mengangkat tangannya dan menanyakan satu pertanyaan yang tak terduga: “Seandainya kita berpegang pada pengertian mengenai beristirahat di hari Sabat, apakah mungkin kita terhindar dari situasi kelelahan yang dialami negara kita saat ini?”

“Mungkin saja” kata saya. “Mungkin seandainya setiap minggu kita pakai satu hari penuh untuk undur diri dari dunia yang dipenuhi kesibukan, maka istirahat yang penuh itu terbukti cukup untuk bisa memelihara stamina yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan pada enam hari sisanya,”

Allah berbicara mengenai beristirahat di hari Sabat jauh-jauh hari sebelum adanya Sepuluh Perintah Allah. Istirahat setelah penciptaan yang dilakukan oleh Yang Maha Mulia tertera dalam pasal kedua di Alkitab: “Dan Allah memberkati dari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu.” (Kejadian 2:3). Ia melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu dan bersukacita karenanya, dan kemudian Ia memerintahkan kita melakukan hal yang sama.

Istirahat di hari Sabat ini tidak hanya mengistirahatkan tubuh saja – meski itu penting. Itu juga tidak melulu mengistirahatkan emosi, meski mereka yang bertindak bijaksana pasti akan melakukan hal itu pada hari Sabat. Istirahat di hari Sabat sesungguhnya adalah sebuah perayaan peringatan: “Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan Allahmu, memerintahlkan engkau merayakan hari Sabat.” (Ulangan 5:15). Allah yang telah membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir itu, adalah Allah yang juga membebaskan kita dari belenggu dosa. Ingatlah.

Hari Sabat merupakan waktu kita menghentikan dominasi pekerjaan, dan kita menggunakan waktu itu untuk menyembah Sang Pencipta yang berkuasa. Kita berhenti mencari penghasilan demi mengisi lemari-lemari makanan kita, dan menggunakan waktu itu untuk membawa persembahan kepada-Nya. Istirahat dihari Sabat tidak hanya sekedar perhentian: Itu merupakan hal yang mendasar. Kita beristirahat bukan karena kita lelah. Kita menghentikan pekerjaan kita bukan karena telah selesai. Kita menyembah bukan karena sekarang ada banyak anggur di pohon-pohon anggur serta hewan ternak di kandang. Satu diantara tujuh hari yang ada kita gunkan untuk beristirahat dan menyembah semata-mata karena Dia adalah Tuhan.

Namun, sebagian besar, gereja-gereja sekarang belum mengembangkan teologi praktis mengenai beristirahat pada umumnya dan beristirahat di hari Sabat pada khususnya. Kita membaca mengenai istirahat di kitab suci dan berkata, “Ya, itu memang benar.” Namun, makna di dalamnya, sebenarnya kita sedang berkata, “Ya, itu memang benar, tetapi…” Mungkin inilah saatnya untuk mengambil sikap dengan pandangan yang baru, bertanyalah pada Allah apa sebenarnya yang ada dalam pikiran-Nya bagi kita.


Milikilah kembali istirahat di hari Sabat. Ambil kembali hari itu. Hentikan pekerjaaan Anda, dan berhentilah memikirkan pekerjaan Anda. Jernihkan pikiran Anda. Tenangkan jiwa Anda. Berkati anak-anak Anda. Menyembah Tuhan, merenungkan firman, berdoa, tidur, berjalan-jalan dan nikmatilah alam. Bersyukurlah untuk hidup Anda.

(sumber: Jawaban.com)

 

Selanjutnya Apa? July 31, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 1:56 am
Kisah 16:10
“Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

Bacaan Kitab Setahun : Mazmur 31; 1 Tesalonika 3; Yesaya 15-16

Bagi Paulus kesuksesan merupakan sebuah ‘sasaran bergerak’. Setelah selesai membobol suatu kota dan membentuk komunitas Kristen di sana, Paulus bergerak ke kota lainnya untuk memberitakan Injil dan membangun komunitas Kristen berikutnya.

Sebagian besar staganasi (kemandekan) para pemimpin, terjadi karena mereka tidak menyadari bahwa visi Tuhan bersifat progresif (berkembang). Pada waktu kita mencapai suatu cita-cita yang Tuhan taruh di hati kita, tentu kita sangat bersukacita. Success means right man in the right place at the right time (Keberhasilan ialah orang yang tepat, berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat). Namun yang sering terjadi ialah: kita berada di tempat itu terlalu lama, sehingga tempat itu tidak lagi menjadi ‘the right place’ bagi kita.

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengajarkan dengan jelas bahwa ‘God is Moving and Christianity is a movement’ (Tuhan itu bergerak dan Kekristenan merupakan sebuah pergerakan). Waktu kita gagal menangkap pergerakannya Tuhan yang sulit diprediksi, maka kita akan menjadi orang-orang Kristen yang “basi”. Menjadi orang Kristen yang basi artinya orang tersebut hanya bingung dengan apa yang terjadi atau menjadi penonton kegerakan. Perlu diingat, yang mendapat hadiah dalam sebuah pertandingan bukanlah penonton, melainkan pemain.

Nicholas Murry Butler (Dekan Colombia University) pernah mengatakan bahwa ada 3 macam orang/pemimpin: pertama, Orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi ; kedua, Orang yang takjub dan terpukau dengan apa yang sedang terjadi; ketiga/terakhir, Orang yang membuat sesuatu terjadi.

Setelah selesai dalam misi yang Tuhan berikan, jangan merasa puas diri. Ajukan pertanyaan kepada-Nya: “Selanjutnya apa Tuhan?” Tangkap isi hati-Nya, lalu jadilah orang terdepan dalam kegerakan Tuhan atas generasi ini.

Tuhan tidak pernah berhenti berkarya lewat hidup Anda. Teruslah menjadi alat kemuliaan nama-Nya di bumi ini !

(sumber: Jawaban.com)

 

Makna pensil June 13, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 1:33 pm

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil
ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh
hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera
dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu
dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa
wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh
si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang
sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa
pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu
gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu
gagal.”

“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan
mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan
membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.

“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang
penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam
dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi
manusia”.

“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan
bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan
manusia yang menggunakanmu” .

“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan
itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya.
Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil
yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi
hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai
tujuanmu dibuat”.

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya,
dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang
membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan
misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa
sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk
digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di
dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai
tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi
semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi,
yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan
hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri
hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa
salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan
arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita
belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi
atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya
guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan.
Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual
yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian
akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita
hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan
bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal
untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.
Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa
dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna
optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan
ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita
selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal
Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan
terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu
justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan
nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi
pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang
penajaman itu ’sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan
kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering
menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru
yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling
tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat
merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada
diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti
karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah
yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita
harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang
aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan
seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang
service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka
semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita
harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita
berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari
ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama
dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang
lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang
berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan
kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri
kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’
yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari
Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih
mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh
Tuhan.

Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun
hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu
yang heboh dan spektakuler.

sumber : kaskus.us

dikutip dari -glundhung.blogspot.com-

 

Segera Lakukan langkah pertama! May 23, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 12:26 am

Beberapa waktu belakangan ini, Tuhan mengajarkan banyak hal tentang statement “aku percaya”. Aku sangat rhema dengan statement ini. Ini salah satu statement yang aku suka dan sedang belajar untuk melakukan hal ini dalam setiap kehidupanku. Ini kelihatannya pernyataan sederhana dan simple. Tapi, sebenarnya ini pernyataan yang luar biasa. Statement “aku percaya” menggambarkan penyerahan total pada sesuatu yang kita percayai. Kita seperti sudah berserah sepenuhnya padanya. Ini bukan soal perkataan yang keluar dari mulut saja, melainkan soal sikap hati berserah sepenuhnya. Percaya mempunyai pengertian kurang lebih sama dengan beriman, walaupun beriman memiiki “level” yang lebih tinggi dari sekedar percaya.

Aku lalu diajar hal baru tentang hal ini. Seringkali kita bermimpi tentang sesuatu atau beriman tentang satu hal. Lalu kita mulai berdoa pada Tuhan agar hal itu digenapi. Itu bukan sesuatu yang salah. Itu benar. Hanya saja, aku diajar untuk tidak hanya berdoa saja tentang semua iman dan mimpiku. Tuhan menuntut suatu langkah nyata dari kita untuk menggenapinya. Mungkin kita berpikir berdoa sudah merupakan suatu langkah nyata untuk menggenapi mimpi kita. Atau kita mulai mencari suara Tuhan dan setelah mendengar-Nya kita berpikir kita sudah melakukan suatu langkah nyata. Memang benar kita harus berdoa dulu lalu mencari suara Tuhan tentang mimpi kita tersebut. Tapi Tuhan butuh suatu bukti juga dari kita bahwa kita sedang menghidupi mimpi dan iman kita tersebut. Tuhan mau agar kita tidak hanya berdoa saja, tapi berjalan sesuai iman dan mimpi kita tersebut.

Bagi Tuhan, akan sangat mudah menggenapi semua iman dan mimpi kita tersebut. Tetapi seringkali kita yang mempersulit semua itu tergenapi. Yang Tuhan tuntut dari kita hanya suatu langkah pertama untuk menggenapinya. Lalu langkah pertama itu dilanjutkan dengan langkah berikutnya. Dimana-mana, jika kita ingin melakukan sesuatu, pasti langkah pertama yang paling sulit (walaupun gak semua seperti itu). Misal, kita ingin masuk ke suatu universitas terkemuka, maka yang paling sulit adalah tes masuknya. Jika sudah masuk, proses pembelajaran biasanya tidak sesulit yang kita bayangkan. mengapa itu semua bisa terjadi? Itu karena langkah pertama biasanya berjalan singkat dan cepat. Tetapi, langkah pertama itu akan sangat menentukan langkah ke depan selanjutnya. Tidak ada langkah kedua jika langkah pertama tidak dilakukan. Semakin lama kita melakukan langkah pertama (maksudnya mengulur waktu untuk melakukan langkah pertama), maka semakin lama juga mimpi dan iman kita akan digenapi. Langkah pertama ini bukan dilakukan oleh Tuhan, tetapi oleh kita.

Lalu aku diperjelas tentang korelasi statement “aku percaya” dan suatu sikap hidup. Statement “aku percaya” tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan suatu sikap hidup yang membuktikan kita sedang dalam kondisi percaya. Misalnya, saat aku sakit lalu berkata, “Tuhan aku percaya bahwa aku sudah sembuh”. Lalu ternyata aku sering mengeluh tentang penyakit itu sendiri. itu sedang tidak membuktikan suatu sikap hidup yang menggambarkan “aku percaya”. Jika aku gabung statement “aku percaya” dan “lakukan langkah pertama”, maka kira-kira seperti ini: aku percaya akan satu hal, dan aku akan segera melakukan langkah pertama untuk membuktikan pada dunia luar bahwa aku percaya akan hal itu segera terjadi. sederhana bukan?! Yang sulit hanya melakukan langkah pertama.

Penggenapan iman dan mimpi kita juga ditentukan oleh langkah pertama tersebut. Bayangkan jika Abram mengulur waktu untuk berangkat dari haran ke kanaan. Abram baru saja mendapat janji dari Tuhan dan abram percaya akan janji yang kelihatannya mustahil itu. Tetapi, dia segera berangkat saat berumur 75 tahun dan berjalan dalam imannya tersebut. Dia baru saja melakukan langkah pertama dalam menjalani mimpi dan imannya tersebut. Tentu saja tidak mudah bagi Abram meninggalkan kampung halamannya dan semua saudaranya. Tetapi dia berani melakukan langkah pertama. Jika Abram berangkat misalnya saat berumur 80 tahun, mungkin penggenapan janji Tuhan akan diundur juga.

Oleh karena itu, segera lakukan langkah pertama dalam menggenapi mimpi dan iman kita tersebut. Memang dibutuhkan “energi ekstra” untuk melakukannya. Tetapi, karena kita punya Tuhan yang akan menguatkan kita, maka seharusnya tidak sulit bagi kita untuk melakukan langkah pertama. Jadi, buktikan statement “aku percaya” yang kita katakan dengan langkah pertama yang nyata untuk menggenapi semua mimpi dan iman kita.

gogetglory.blogspot.com/bm

-Jawaban.com-

 

Pria Dan Perkataannya May 20, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 11:33 am

pkataan_3Kita hidup di zaman di mana kata-kata tidak bermakna sama seperti dulu. Namun bahasa kita telah dicemari begitu lama sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Apa yang dulu disebut ‘membunuh janin’ sekarang disebut ‘pilihan’. Apa yang dulu dikenal sebagai ‘hidup dalam dosa’ sekarang disebut ‘hubungan penuh arti’. Apa yang dulu disebut ‘hubungan seksual’ sekarang disebut ‘sikap tidak pantas’.

Bagaimana mungkin kita menjadi sekacau ini? Kapan kita mulai membalikkan makna kata-kata?

Kita perlu menegaskan kembali makna sesungguhnya dari kata-kata karena kata-kata memang bermakna sesuatu. Pemantangan nafsu seharusnya tidak menjadi frase yang menyebabkan para remaja yang senang mengunyah permen karet menyeringai. Kesetiaan dalam pernikahan seharusnya tidak dianggap kata peninggalan zaman Victoria – justru seharusnya itu dijunjung tinggi sebagai tujuan yang luhur.

Pikirkan saja: Kalau para politisi bisa dikelilingi oleh para jubir politik, kenapa kita tidak bisa dikelilingi Firman TUHAN? Saya mendapati dengan kita terus-menerus membaca Amsal, itu merupakan cara yang dahsyat untuk tetap berpegangan pada makna yang sesungguhnya dari kata-kata. Apa yang lebih terus terang dan tepat sasaran ketimbang menyimak apa yang ingin Allah katakan? Perhatikan contoh-contoh ini:

  • Harga diri, nafsu dan tindakan jahat adalah dosa.
  • Pria bijak menabung demi masa depannya, tetapi pria bodoh menghabiskan semua penghasilannya.
  • Seorang pria dinilai dari tindakannya. Seorang pria jahat menjalani hidup yang jahat; seorang pria saleh menjalani hidup saleh.
  • TUHAN benci berbagai macam penipuan dan ketidakjujuran.

pkataan_2Ini adalah pernyataan-pernyataan langsung, bukan? Tidak ada dalih dan tidak ada pembalikan makna. Kapan pun Anda merasa dunia telah mencemari makna sederhana dari kata-kata, berpalinglah kembali pada firmanNya yang nyata. Kita bisa percaya diri bahwa ketika Alkitab memberitahu kita bahwa TUHAN tetap sama baik kemarin, hari ini, dan besok, itu artinya IA tak pernah berubah. Dia sudah menjanjikan itu pada kita.

  • Allah Bapa tidak suka bertele-tele.
  • Bapa tidak bermain-main dengan kata-kata.
  • Bapa tidak membolak-balik kata untuk mengubah artinya.
  • Saat Bapa berkata Ia mengasihimu, IA bersungguh-sungguh.
  • Saat Allah Bapa berkata IA sudah mengampunimu, IA pun bersungguh-sungguh.
  • TUHAN berbicara dengan terus terang.
  • Dan sebaiknya para pria saleh pun bersikap begitu.

-Jawaban.com-

 

Dia Tahu Kekuatanmu May 20, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 11:22 am
Markus 6:48
Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.

“Tuhan, bulan ini saya harus melunasi hutang buku-buku anak saya di sekolah”, gumam seorang ibu beranak dua sambil menyapu di teras rumah kontrakannya. Ia lalu duduk di kursi, menangis. Ia juga menahan sakit kepala yang sudah dua minggu dia alami. Ibu ini begitu tertekan dengan hal yang menimpa keluarganya. Suaminya sudah 1 tahun terkena PHK karena tempat dia bekerja bangkrut dan belum mendapat pekerjaan pengganti. Mau usaha sendiri tidak punya modal, uang tabungan mereka yang tidak banyak semakin menipis dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Padahal mereka keluarga yang setia pada Tuhan.

Kalau kita ada pada posisi ibu tersebut, kita bisa saja berkata bahwa Allah tidak sayang. Kita mungin bertanya, “Kok Tuhan Yesus tega membiarkan anak-anak-Nya susah padahal kita sudah setia pada-Nya?”

Tapi apa memang begitu? Saya kira tidak! Allah sangat sayang pada kita. Seperti Tuhan Yesus yang melihat murid-murid-Nya mendayung perahu di tengah angin sakal. Ketika mereka terlihat kepayahan, Yesus tidak tinggal diam membiarkan mereka tenggelam, tapi Dia menghampiri mereka dan akhirnya angin sakal reda. Mari tanamkan dalam hati kita bahwa Yesus Kristus berdaulat dalam hidup kita. Dia tahu kekuatan kita dalam menghadapi masalah-masalah. Kita tidak akan dibiarkan berjuang sendiri.

Pejamkan mata Anda sejenak dan lihatlah betapa Ia berkuasa dalam hidup Anda.

-Jawaban.com-

 

Program Pikiran Untuk Berhasil May 20, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 11:11 am

Kolose 3:2
Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Memprogram pikiran Anda untuk berhasil tidak terjadi secara otomatis. Setiap hari, Anda harus memilih untuk mengharapkan hal-hal baik terjadi pada Anda. Saat Anda bangun pagi, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengarahkan pikiran Anda pada arah yang tepat. Katakan sesuatu seperti “Ini akan menjadi hari yang luar biasa. Tuhan sedang mengatur langkah kehidupanku. Kebaikan-Nya sedang mengelilingi aku. Kebaikan dan kemurahan mengikutiku. Aku bersemangat pada hari ini!” Mulailah hari Anda dengan iman dan pengharapan, dan kemudian keluarlah dengan menantikan hal-hal baik. Harapkanlah keadaan-keadaan berubah menjadi seperti yang Anda kehendaki. Harapkanlah orang-orang akan menolong Anda. Harapkanlah Anda berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat.

Mungkin Anda dijadwalkan untuk menyampaikan presentasi yang penting, dan Anda benar-benar mengharapkan mendapat kontrak besar itu. Jangan terkejut jika Anda mendengar suara yang berbisik dalam pikiran Anda, Engkau tidak mempunyai kesempatan. Ini akan menjadi hari yang sangat buruk bagimu. Tidak ada hal baik yang akan terjadi bagimu. Engkau sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi.

Jangan dengarkan kebohongan-kebohongan seperti itu! Tuhan ingin Anda meningkatkan harapan-harapan Anda. Alkitab berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan” (Ibrani 11:1), dan salah satu definisi untuk pengharapan jenis itu adalah “pengharapan yang penuh keyakinan”. Kita dapat dengan penuh keyakinan mengharapkan kemurahan Tuhan. Mulailah mengharapkan pintu-pintu kesempatan terbuka bagi Anda. Harapkanlah untuk meraih yang terbaik dalam karier Anda. Yakinlah bahwa Anda akan mengatasi tantangan-tantangan kehidupan. Tuhan biasanya bertemu dengan kita pada tingkat pengharapan kita. Itulah sebabnya, dalam banyak cara, pengharapan-pengharapan Anda akan menetapkan batas-batas kehidupan Anda. Yesus berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Salah satu terjemahan menyatakannya demikian, “Jadilah apa yang engkau percaya” (Matius 9:29).

Beberapa orang cenderung mengharapkan yang terburuk. Orang lain merasa begitu kewalahan karena masalah-masalah mereka, mereka mempunyai kesukaran mempercayai bahwa hal-hal baik dapat terjadi pada mereka. Anda mendengar mereka berkata seperti, “Oh, saya mempunyai begitu banyak masalah. Bisnis saya bermasalah. Kesehatan saya sedang menurun. Bagaimana mungkin Anda mengharapkan saya bangun dan berkata bahwa ini akan menjadi suatu hari yang baik, ketika saya mempunyai kekacauan besar ini?”

Sahabatku, itulah artinya iman. Mulailah percaya bahwa hal-hal baik sedang mendatangi Anda, dan semua itu memang akan datang!

Apa yang Anda harapkan dalam kehidupan Anda? Apakah Anda mengharapkan hal-hal baik atau buruk, sesuatu yang berarti atau keadaan biasa-biasa saja? Jangan izinkan keadaan-keadaan atau perasaan-perasaan Anda menumpulkan semangat Anda untukl hidup dan memenjarakan Anda dalam suatu bingkai pikiran negatif. Mulai hari ini, harapkanlah segala sesuatu berubah berpihak kepada Anda. Harapkanlah untuk mengalami kebaikan Tuhan!

-Jawaban.com-

 

Berhenti Sejenak May 13, 2009

Filed under: Spirit in God — nettylaora @ 5:59 pm

Suatu ketika ada seorang pemuda desa yang sedang berjalan ke sawah untuk bertani. Dengan cangkul dan caping, Pemuda desa tersebut melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Dia seperti sedang berkata “selamat pagi” kepada hari yang baru.

Sampailah pemuda desa tersebut ke sawahnya dan tanpa tunggu lama dia pun melakukan pekerjaannya, yakni mencangkul lahan sawahnya. Pemuda tersebut begitu menikmati pekerjaannya tersebut. Matahari sudah menunjukkan teriknya pertanda dia harus beristirahat.

Pemuda desa tersebut akhirnya memberhentikan kegiatannya. Dia pun bergabung dengan petani lain yang masih sanak saudaranya juga, untuk melepas lelah dengan makan dan minum. Tidak disangka, datanglah seorang pemuda kota yang melihat pemuda desa yang bersemangat ini. Didatangilah pemuda desa ini oleh sang pemuda kota.

Sang pemuda kota dengan senyum ramah meminta izin untuk bergabung dengan pemuda desa dan para petani yang sedang beristirahat tersebut. Setelah dirasa oleh para petani dan pemuda desa sudah cukup untuk beristirahat, mereka akhirnya melanjutkan aktivitas mereka. Sang pemuda kota pun turut membantu mereka.

Tidak terasa matahari sudah tenggelam seperti dimakan bumi. Semuanya pun segera menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke rumah masing-masing. Sang pemuda kota berjalan bersamaan dengan sang pemuda desa. Sampailah keduanya dalam dialog seperti ini..

Pemuda kota:      Mengapa tadi kamu terlihat begitu bersemangat?

Pemuda desa: Saya semangat karena saya menikmati pekerjaan ini. Ya, Walaupun banyak pemuda desa yang tidak suka, tetapi saya merasa ini adalah kebisaan saya. Saya hanya mensyukurinya saja kepada Tuhan.

Pemuda kota: Tetapi apa yang bisa membuat kamu tidak bosan menjalani pekerjaan seperti ini?

Pemuda desa: Saya hanya tahu hal ini: “kalau saya tidak mengerjakan pekerjaan saya, maka banyak orang yang akan menderita. Bukan saja keluarga saya, tapi banyak orang yang kesulitan untuk makan.”

Pemuda kota: Selain itu ada lagi gak?

Pemuda desa: Saya akan berhenti sejenak.

Pemuda kota: Maksudnya??

Pemuda desa: Ya, saya tidak mengerjakan dahulu pekerjaan selama satu hari dan menikmati suasana desa ini, menikmati apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya.

Pemuda kota: Wah, luar biasa. Terima kasih ya sudah memperbolehkan saya berbincang dengan kamu.

Pemuda desa: Sama-sama. (sambil berjabat tangan sebagai tanda perpisahan).

Berhenti sejenak dari segala pekerjaan kita dan mulai nikmati apa yang sudah Tuhan berikan dalam kehidupan kita bukanlah hal yang buruk. Saat kita mengetahui waktu untuk berhenti sejenak, lakukanlah itu. Dengan melakukan itu maka tubuh, jiwa, roh kita akan mendapatkan kesegaran dan kekuatan baru untuk memulai dan menjalani pekerjaan kita sehari-harinya.

sumber -jawaban.com-